Selasa, 02 April 2013

SISTEM TATA SURYA DAN KEHIDUPAN

A. Pembentukan Tata Surya
Jika melihat langit di malam hari, mungkin Anda akan menemukan dua atau tiga benda sangat terang di antara bintang-bintang.  Benda tersebut tampak tidak bersinar seperti bintang. Jika Anda melihat melalui teropong, benda tersebut tampak seperti piringan kecil. Jika Anda melihat benda tersebut beberapa malam berturut-turut, maka Anda akan melihat bahwa selama beberapa minggu atau bulan, benda tersebut tampak berkeliaran di antara bintang-bintang, tidak pernah muncul di tempat yang sama. Orang Yunani menyebut benda tersebut "pengembara," atau planet, dan benda tersebut diberi nama-nama para dewa (meskipun hari ini kita menggunakan nama-nama Romawi). Pada malam dan pagi, misalnya, Anda cenderung melihat Venus (nama untuk dewi cinta), dan bergerak cepat Mercury (utusan para dewa), dan langit malam sering didominasi oleh Jupiter (raja para dewa).  Saat ini kita telah mengetahui bahwa piringan cahaya tersebut adalah benda yang serupa dengan planet yang kita tempati, bumi. Benda tersebut menunjukkan kepada kita bahwa kita adalah bagian dari sebuah sistem yang mencakup bukan Bumi saja, tetapi Matahari, planet-planet lainnya, dan puluhan bulan, dan tak terhitung benda kecil lainnya.



B. Pembentukan Planet dan Bulan

Gambar  5.  Pemboman besar pada planet
Setelah pembentukan planet, setiap objek berevolusi dengan caranya sendiri yang khas. Bumi dan planet-planet terestrial lainnya, semuanya berputar, bertabrakan, yang mengguncang awan planetesimal. Setelah planetesimal terbentuk, pembentukan planet diikuti dengan cepat.  Saat planetesimal bergerak dalam orbitnya, juga mengumpulkan planetesimal kecil melalui proses tarik gravitasi.  Planetesimal besar bertabrakan dan bergabung dan menjadi awal terbentuknya sebuah planet. Ketika proses akumulasi berlangsung, planet tumbuh secara bertahap menyapu semua puing-puing yang berada di dekat orbitnya.  Jika Anda berdiri di permukaan planet Bumi pada tahap ini, Anda akan melihat tampilan yang spektakuler. Sebuah hujan konstan dari puing-puing yang tersisa dari masa awal pembentukan planet jatuh ke permukaan planet,  terus menambah massa planet. Selama periode ini, yang disebut pemboman besar, sejumlah besar energi kinetik yang dibawa oleh hujan batu dikonversi menjadi panas, yang ditambahkan ke planet yang baru terbentuk.  Permukaan planet akan bersinar merah terang akibat dari panas yang terkumpul, disertai dengan percikan spektakuler batuan cair.  Walaupun penambahan materi di bumi telah melambat, namun tidak berhenti sampai sekarang. Misalnya, ketika Anda melihat meteor (sering disebut bintang jatuh), maka akan ada objek ditambahkan ke bumi. Para ilmuwan memperkirakan bahwa massa Bumi tumbuh sekitar 20 metrik ton (20.000 kg, atau 2 x 107 g) per hari oleh pertambahan materi jatuh dari angkasa.

  • "jiwa vegetatif" tanaman, yang menyebabkan mereka untuk tumbuh dan membusuk dan memelihara diri mereka sendiri, tetapi tidak menyebabkan gerakan dan sensasi
  • "jiwa hewan" yang menyebabkan hewan untuk bergerak dan merasa;
  • jiwa rasional yang merupakan sumber kesadaran dan penalaran yang (Aristoteles yakini) hanya ada pada manusia.


Bumi adalah satu-satunya planet di alam semesta yang dikenal memiliki kehidupan. Persamaan Drake, yang menghubungkan jumlah peradaban ekstraterestrial di galaksi kita yang mungkin kita hubungi, telah digunakan untuk membahas kemungkinan kehidupan di tempat lain, tetapi para ilmuwan tidak setuju pada banyak nilai-nilai variabel dalam persamaan ini. Tergantung pada nilai-nilai tersebut, persamaan dapat menunjukkan bahwa kehidupan bisa muncul sering maupun jarang.

G
Selama periode pendinginan yang diikuti pemboman besar dan mencair, sejumlah besar uap air, karbon dioksida, dan gas lainnya akan dibebaskan dari interior padat bumi membentuk atmosfer.  Dengan kata lain, gas awal pembentukan atmosfer saat ini, mungkin awalnya terkurung di dalam batu di dekat permukaan bumi. Selanjutnya, proses yang disebut outgassing akan melepaskan atmosfer baru. Outgassing, di awal sejarah Bumi, belum berakhir sampai hari ini. Contohnya letusan gunung berapi, Anda akan melihat awan asap dan uap yang menyertai aliran lava pijar.
C. Menjelajahi Tata Surya

Sejumlah pesawat antariksa dikirim keluar dari Bumi sejak tahun 1970 telah mengunjungi sebagian besar planet luar dan memberikan pandangan baru mengenai bagian luar tata surya. Raksasa gas terdekat, Jupiter, mengorbit pada lima kali jarak Bumi-Matahari, lebih dari 800 juta kilometer jauhnya. Saturnus adalah dua kali lebih jauh, sementara Uranus dan Neptunus miliaran kilometer jauhnya. Senyawa seperti gas yang ada di Bumi, seperti karbon dioksida, nitrogen, dan metana, yang ditemukan dalam bentuk cair atau bahkan padat di bawah tekanan tinggi di dalam interior planet Jovian. Struktur luar planet raksasa adalah berlapis, seperti yang dari planet terestrial, tetapi tidak memiliki permukaan yang padat seperti Bumi dan Bulan.  Semakin ke dalam pada planet Jupiter atau Saturnus, strukturnya  semakin padat karena tekanan tinggi. Daratan Jupiter es krim sundae raksasa.   
a. Cincin dan Bulan Planet Luar

Gambar  13. Saturnus dengan cincin dan bulannya
Europa adalah Bulan kedua Jupiter yang menjadi salah satu obyek yang paling banyak dipelajari di tata surya, karena hasil pesawat ruang angkasa Galileo menunjukkan kemungkinan bahwa kondisi di sana mungkin cocok untuk pengembangan kehidupan.

Foto-foto pesawat ruang angkasa Voyager of Europa menunjukkan adanya permukaan halus yang terbuat dari air es.  Hal ini memungkinkan adanya lautan di Europa.  Karena kehidupan di Bumi dikembangkan di lautan, ada kemungkinan bahwa kehidupan (dalam bentuk mikroba, setidaknya) mungkin telah muncul di Europa. NASA sedang merencanakan upaya eksplorasidi Europa, kemungkinan mengirimkan penjelajah robot untuk mencairkan jalan melalui es untuk menjelajahi lingkungan baru dan benar-benar tak terduga. 


Selama pertengahan akhir abad kedua puluh, para ilmuwan menemukan bahwa terdapat kumpulan komet dan benda-benda berbatu berbentuk cakram besar yang terdapat di luar orbit pluto yang merupakan sisa dari pembentukan tata surya. Kumpulan benda-benda ini disebut Sabuk Kuiper, setelah Gerard Kuiper, astronom Belanda yang pertama kali menemukan keberadaannya. Penemuan Sabuk Kuiper menimbulkan pemahaman baru tentang Pluto. 
Misi NASA Terpanjang
Pesan dan Rekaman


Komet terbaik dapat dianggap sebagai "bola salju kotor".  Tidak seperti asteroid, komet terdiri dari potongan-potongan bahan seperti es air dan metana di mana material padat batuan tertanam di dalamnya.  Sebagian besar komet berada di luar orbit Pluto. Dua waduk utama komet ditemukan di tata surya. Salah satunya adalah susunan bola besar yang disebut awan Oort (dinamai setelah astronom Belanda Jan Oort,, 1.900-1.992 yang pertama kali mempostulatkan keberadaannya), yang terletak jauh dari tata surya. Yang lain adalah bagian dari Sabuk Kuiper. Kadang-kadang, ketika orbit komet terganggu, komet akan dibelokkan sehingga jatuh ke Matahari. Ketika ini terjadi, meningkatnya suhu di bagian dalam tata surya akan mendidihkan bahan, dan kita melihat "ekor," menjauh dari Matahari karena terdorong oleh angin surya.


Karena planet bersinar hanya dengan cahaya yang dipantulkan dari bintang mereka, deteksi langsung sangat sulit. Akibatnya, para astronom harus mengembangkan cara-cara tidak langsung untuk menemukan planet "extrasolar" (istilah sederhana berarti "planet di luar tata surya"). Bahkan, cara terbaik untuk mencari planet-planet extrasolar adalah dengan menggunakan efek Doppler.  Bayangkan bahwa Anda sedang melihat sebuah bintang yang memiliki planet. Ketika planet terletak di antara bintang dan Anda, gravitasi akan menarik bintang ke arah Anda. Setengah "tahun" kemudian, namun, ketika planet ini di sisi yang jauh dari bintang, bahwa gravitasi yang sama akan menarik bintang menjauh dari Anda.
D. Gravitasi dan Kesehatan


Benda-benda di tata surya kita massanya sangat bervariasi, mulai dari Pluto yang kecil hanya 1/500 kali massa Bumi, sampai yang paling besar Jupiter, yaitu 317 kali lebih besar dari bumi. Akibatnya, gaya gravitasi di permukaan planet masing-masing berbeda, anda akan sangat ringan ketika berada di Pluto, tetapi akan menjadi sangat berat ketika berada di Jupiter.  Tulang dalam rangka tubuh berfungsi menopang berat badan kita. Tulang tidak sekaku bahan seperti beton, melainkan harus fleksibel dalam menanggapi lingkungannya. Terus-menerus membangun kembali sendiri, menggantikan kalsium yang kaya mineral yang membentuk struktur yang padat. Bahkan, Anda dapat membayangkan bahwa yang terjadi di dalam tulang analog dengan renovasi sebuah rumah. Pertama, bahan lama akan dihapus (proses yang disebut resorpsi), maka materi baru ditambahkan. Jika tulang berada pada kondisi yang tidak biasa, maka akan berubah secara bertahap dalam menanggapi, menambah atau mengurangi massa. Di permukaan Bulan, misalnya, berat Anda menjadi seperenam dari berat di bumi. Tulang Anda akan melakukan perombakan dalam kondisi gaya gravitasi yang lebih rendah. Astronot yang berada beberapa minggu atau bulan di lingkungan tanpa bobot akan mengalami keropos tulang yang signifikan.  Para ilmuwan, menyatakan bahwa efek yang jangka panjang dari gaya gravitasi rendah adalah terjadinya pengeroposan tulang. Apa yang akan terjadi, misalnya penerbangan ke Mars selama berbulan-bulan? Studi pada astronot sekarang juga dapat menentukan apakah seperti penerbangan antarplanet bisa dilakukan di masa mendatang?
  1. Tanpa gravitasi, tidak ada lagi tekanan yang menjaga cairan tubuh pada keadaan normal, dan cairan ini berjalan hingga kepala dan dada. Hal ini menyebabkan wajah manusia menggembung, hati dan organ lainnya membesar, dan pembuluh darah di leher mulai mengalami tonjolan keluar karena cairan ekstra. Hal ini menyebabkan cairan ekstra tubuh mencoba memperbaiki masalah tersebut dengan mengeluarkan cairan berlebih. Cairan ini mengandung isi penting seperti elektrolit, plasma darah, dan kalsium. Ekskresi kelebihan cairan dari tubuh juga menyebabkan tubuh untuk meningkatkan tingkat di mana ginjal menyaring darah sebanyak 20%.
  2. Cakram tulang belakang juga mulai membesar akibat kurangnya gravitasi. Hal ini dapat menyebabkan seseorang untuk tumbuh sekitar dua inci lebih tinggi.
  3. Masalah lain yang terjadi adalah gangguan arah dan keseimbangan tubuh. Tubuh manusia bergantung pada fluida pada telinga bagian dalam untuk menentukan arah kami dan keseimbangan. Tanpa gravitasi, cairan ini tidak lagi tinggal di bagian bawah telinga bagian dalam dan menyebabkan tubuh menjadi mudah bingung (kehilangan arah).
  4. Sebuah lingkungan tanpa gravitasi juga dapat menyebabkan perubahan psikologis yang menyertai perubahan fisik. Tubuh dapat menderita insomnia, depresi dan gangguan emosi dengan orang lain.
  5. Perubahan lain dapat berpotensi berbahaya adalah atrofi otot. Tanpa gravitasi, otot-otot yang penting, tak lagi perlu digunakan. Setelah kembali dari penerbangan ruang angkasa selama lebih dari satu bulan, otot-otot biasanya tidak lagi memiliki massa maupun berfungsi seperti dulu. Ini berarti bahwa sering kali, tubuh tidak lagi mampu berjalan atau melakukan pekerjaan sederhana lainnya setelah kembali ke bumi atau lingkungan bergravitasi (ingat otot adalah alat gerak aktif, sedangkan tulang hanyalah alat gerak pasif pada manusia!). Waktu rehabilitasi ini dapat dalam beberapa kasus lebih lama dari dua tahun.
  6. Perubahan lain yang berpotensi membahayakan tubuh mengalami adalah osteoporosis ekstrim. Dalam ruang hampa, tubuh manusia kehilangan antara 1% – 2% massa tulangnya setiap bulan. Angka tersebut menunjukkan jumlah rata-rata yang dialami wanita pascamenopause dalam setahun. Ini jumlah kerugian tulang bisa menyebabkan osteoporosis parah pada tubuh manusia. Jumlah tulang yang hilang selama jangka waktu dua tahun untuk astronot akan sama dengan keropos tulang orang dewasa berusia 85 tahun. Sistem kerangka akan sangat rentan terhadap stres dan patah tulang istirahat baik dalam ruang dan di tanah. Ini dapat menyebabkan masalah setelah pesawat ruang angkasa mencapai tujuan dan seseorang harus melakukan perjalanan dalam lingkungan yang memiliki gravitasi. Beberapa ilmuwan berspekulasi bahwa tubuh dapat menjadi begitu lemah sehingga hanya berjalan saja (jika otot-otot tidak berhenti tumbuh) dapat menyebabkan patah tulang atau fraktur. Para ilmuwan tidak yakin apakah osteoporosis ini dapat membaik, atau memperoleh tulang padat yang normal kembali.
  7. Masalah terakhir bahwa tubuh manusia mungkin bisa menderita di luar angkasa adalah keracunan radiasi. Matahari melepaskan sejumlah besar radiasi yang berpotensi dapat menyebabkan mutasi materi genetik. Bumi terlindungi dari radiasi ini oleh kedua medan magnet dan atmosfer. Ruang hampa tidak memiliki perlindungan tersebut, sehingga jumlah radiasi bisa lebih dari 1000 kali lebih besar daripada di Bumi. Jumlah radiasi sebesar ini dapat berpotensi menyebabkan kanker parah atau keracunan radiasi. Kerusakan besar pada sel-sel juga dapat disebabkan oleh paparan radiasi dan dapat menyebabkan masalah internal yang parah.
1. Kunci Atas Asal-Usul Tata Surya
Revolusi Copernican radikal mengubah persepsi manusia mengenai tempat kita di alam semesta.  Bumi merupakan salah satu dari sejumlah planet yang mengorbit Matahari. Tata surya, meliputi matahari, planet-planet dan puluhan bulan, ditambah semua benda lain yang terikat melalui gaya gravitasi matahari. Menggambarkan dan menjelaskan secara rinci bagaimana  sistem tata surya ini ada merupakan tantangan utama yang dihadapi oleh para ilmuwan saat ini.  Memang, penelitian dari dunia lain  membantu kita untuk memahami asal-usul dan evolusi planet kita sendiri. Bagaimana kita bisa menyimpulkan asal-usul tata surya berdasarkan kondisi yang ada sekarang? Sampai saat ini, pengamatan Matahari dan planet-planet telah dilakukan dari permukaan bumi. Kita melihat titik cahaya yang bergerak di langit, tapi bagaimana informasi tersebut dapat diterjemahkan ke dalam gambaran yang jelas dari sistem yang dinamis?
Manusia telah mempelajari sistem tata surya selama ribuan tahun, melakukan observasi dan mengusulkan model. Sarjana kuno mencatat posisi perubahan planet terang, seperti Venus dan Jupiter. Penerapan teleskop oleh Galileo dan astronom berikutnya banyak menyebabkan penemuan baru, benda samar, termasuk bulan dan beberapa objek kecil lainnya. Baru-baru ini, pesawat antariksa yang mengorbit dan misi flyby telah kembali membawa gambar beberapa planet, sementara pesawat ruang angkasa telah mendarat di Venus dan Mars. Para Astronom mengumpulkan data tentang tata surya, mereka melihat adanya keteraturan mengenai orbit planet dan distribusi massa yang memberikan petunjuk untuk memahami evolusi alam semesta.
Kunci 1: Orbit Planet
Pikirkan tentang apa hukum Newton memberitahu kami mengenai satelit yang mengorbit sebuah badan pusat. Sebuah satelit dapat masuk ke segala arah: timur ke barat atau barat ke timur, sekitar ekuator atau di kutub. Tidak ada kendala mengenai orientasi orbit, dan planet-planet mengorbit bisa dengan cara apapun yang mengelilingi matahari. Namun dalam sistem tata surya kita, kita melihat tiga fitur yang sangat penasaran:
1. Semua planet, dan sebagian besar dari bulan-bulan mereka, orbit dalam arah yang sama mengelilingi matahari, dan arah ini adalah sama dengan rotasi Matahari. 
3. Semua orbit planet dan bulan mereka yang lebih besar dalam kurang lebih pada bidang yang sama. Tata surya menyerupai sekelompok kelereng berguling-guling di hidangan datar tunggal.  
3.  Hampir semua planet dan bulan berputar pada sumbu mereka dalam arah putarannya  sama dengan arah orbit planet terhadap Matahari.

Kunci 2: Distribusi Masa  Sistem Tata Surya
Anda mungkin membayangkan massa tata surya merata, dimana semua planet memiliki ukuran dan komposisi kimia yang sama. Tetapi sistem tata surya kita tidak seperti itu sama sekali. Sebaliknya:
•      Hampir semua materi tata surya terkandung dalam Matahari, dengan hanya sebagian kecil di planet dan benda-benda lainnya di orbit.
•      Ada dua jenis planet. Tata surya bagian dalam, adalah planet seperti Bumi yang relatif kecil, berbatu, kerapatan tinggi, disebut planet terestrial.  Yang ternmasuk planet ini adalah Merkurius, Venus, Bumi, Mars, dan bulan (meskipun tidak benar-benar sebuah planet). Lebih jauh dari Matahari, pada bagian luar sistem tata surya, adalah dunia yang besar yang tersusun atas hidrogen dan helium. Disebut sebagai "gas raksasa," atau  Planet Jovian, diantaranya Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. 
•      Di ruang anatar planat terdapat banyak jenis benda lainnya. Semua planet kecuali, Merkurius dan Venus, memiliki satu atau lebih bulan. Salah satu bulan planet Saturnus adalah Titan yang mempunyai ukuran sama dengan Mercury. Saturnus dan planet-planet Jovian lainnya juga memiliki cincin yang terdiri dari jutaan bulan kecil. Kumpulan bebatuan kecil, melingkari Matahari ditemukan di antara orbit Mars dan Jupiter, disebut sabuk asteroid, meskipun beberapa memiliki orbit yang melintasi Bumi.
•      Mulai dari orbit Pluto dan membentang jauh keluar sistem tata surya kita disebut Sabuk Kuiper. Dalam Sabuk Kuiper, terdapat benda-benda seperti planet disebut plutoids. Pluto sendiri, yang pernah dianggap sebagai planet terluar, kini dipandang sebagai Plutoid terdalam. Akhirnya, dalam lingkup raksasa yang mengelilingi seluruh sistem tata surya, terdapat segerombolan komet es. 
•      Kadang-kadang, komet ini berdesakan lepas dari orbitnya dan menjadi bagian dari alam planet, menghasilkan tampilan spektakuler di langit. Itulah keteraturan distribusi massa dalam tata surya, jika dikombinasikan dengan data orbit planet, akan menambahkan dukungan mengenai model-hipotesis nebular yang menjelaskan bagaimana sistem tata surya terbentuk.





2. Hipotesis Nebula
Teori pembentukan bintang-hipotesis nebular, pertama kali dikemukakan oleh matematikawan dan fisikawan Perancis, Pierre Simon Laplace (1.749-1.827). Model tersebut banyak membantu menjelaskan karakteristik khas dari sistem-surya kita.  Menurut hipotesis nebular, dulu (sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu berdasarkan penanggalan radiometrik) awan besar debu dan gas yang terkumpul di wilayah yang sekarang diduduki oleh sistem tata surya. Debu dan awan gas tersebut disebut nebula, yang pada umumnya mengisi galaksi kita, Bima Sakti. Nebula biasanya berisi lebih dari 99% hidrogen dan helium, dan sebagian kecil unsur alam lainnya.  Di bawah pengaruh gravitasi, nebula perlahanzz, tak terelakkan, mulai runtuh dengan sendirinya. Seperti saat proses pembentukan bintang dari nebula, keruntuhan menyebabkan awan berputar lebih cepat dan lebih cepat. Spin cepat memiliki beberapa konsekuensi. Pertama, bahwa beberapa materi di bagian luar awan mulai berputar keluar membentuk piringan datar.  Dibagian dalam masih meripakan benjolan besar yang pada akhirnya akan menjadi Matahari dan materi pada piringannya pada akhirnya akan menjadi planet  dan yang lainnya. Fakta bahwa semua orbit planet berada pada bidang yang sama, merupakan konsekuensi sederhana dari rotasi cepat tata surya sebagai awan nebula mulai berkontraksi.

Selanjutnya materi yang lebih padat terkumpul di beberapa daerah pada piringan.  Kumpulan materi ini memiliki gaya gravitasi lebih kuat daripada di sekitarnya, sehingga benda-benda di sekitarnya cenderung tertarik.  Ketika materi-materi tersebut terakumulasi, butiran-butiran padat mulai tetap bersatu. Ini konsekuensi akhir dari gaya gravitasi menyebabkan piringan pecah dengan cepat menghasilkan benda-benda kecil yang disebut planetesimal, dengan berbagai ukuran.  Setelah ini terjadi, proses tarik gravitasi berlangsung di skala yang lebih besar. Planetesimal saling bertabrakan, objek yang lebih besar menangkap onjek yang lebih kecil dan terus tumbuh.
Energi cahaya mulai memancar keluar dari matahari, dan perbedaan temperatur mulai menjalar ke piringan.  Bagian-bagian terdekat Matahari menghangat, sementara yang jauh hanya sedikit hangat.  Akibatnya, pengembangan sistem tata surya bagian dalam dan luar berbeda. Di daerah yang hangat, senyawa seperti air, metana, dan karbon dioksida berada dalam bentuk gas, sementara jauh keluar mereka membeku menjadi padat.  Dengan demikian, proses fisik sehari-hari yang berkaitan dengan tahapan materi dan respon terhadap temperatur yang familiar seperti air mendidih dan membuat es, menjelaskan salah satu fakta penting tentang tata surya.  Planet-planet terestrial, termasuk Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars, yang terbentuk dari bahan-bahan yang bisa tetap padat pada suhu tinggi. Akibatnya, planet tersebut kecil, berbatu. Sedangkan yang lebih jauh dari matahari, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus, komposisinya sama dengan bebula aslinya, yaitu mengandung sebagian besar hidrogen dan helium.  Planet-planet tersebut dibentuk dari materi yang kental dan akumulasi di bawah kondisi suhu yang lebih rendah.  Akibatnya, planet-planet Jovian memiliki komposisi kimia yang berbeda dari planet-planet terestrial.




Ketika hipotesis nebula pertama kali diusulkan pada abad kedelapan belas, tampaknya ada sedikit kemungkinan bahwa bukti pengamatan langsung dapat ditemukan untuk mendukung teori tersebut. Pada tahun 1992, Teleskop Hubble Space mendeteksi massa debu tebal yang mengelilingi bintang yang baru lahir di wilayah ruang yang disebut nebula Orion. Pengamatan selanjutnya telah membenarkan keberadaan piringan di sekitar bintang muda. 
1. Diferensiasi Struktur Bumi
Setiap kali planetesimal lain menghantam Bumi yang masih muda, semua energi kinetik dan potensial yang diubah menjadi panas. Panas terdifusi ke dalam bumi. Permukaan bumi bersinar merah panas dan suhun dibagian dalam mencapai ribuan derajat. Akhirnya, Bumi meleleh atau dipanaskan pada suhu cukup tinggi sehingga.  Bahan padat berat (seperti besi dan nikel) di bawah pengaruh gaya gravitasi bergerak menuju pusat planet, sementara yang lebih ringan dan kurang padat melayang ke atas. Proses ini disebut diferensiasi, yang mengakibatkan planet terestrial sekarang memiliki struktur khas berlapis dan memiliki kepadatan yang berbeda.   Dalam arti, apa yang terjadi pada planet-planet tidak berbeda dengan apa yang terjadi pada campuran minyak dan air yang tercampur dan kemudian terjadi pemisahan.  Minyak yang ringan akan mengapung ke atas dan air yang lebih berat akan tenggelam ke bawah karena pengaruh gravitasi.



Di pusat bumi, dengan radius sekitar 3400 kilometer (2000 mil), merupakan inti, terdiri atas besi dan logam nikel. Suhu di pusat bumi diyakini melebihi 5000º C, namun tekanan yang begitu tinggi-sekitar 3,5 miliar gram per sentimeter persegi (hampir 50 juta pon per inci persegi) mengakibatkan inti besi-nikel dalam keadaan padat.  Sedikit lebih jauh keluar tekanan agak rendah, sehingga wilayah luar inti besi-nikel berwujud cairan.  Inti logam ditutupi oleh lapisan tebal, mantel, yang kaya unsur oksigen, silikon, magnesium, dan besi.  Ikatan logam mendominasi dalam inti, namun mantelnya merupakan gabungan terutama antara ion oksigen bermuatan negatif dan ion bermuatan positif silikon, magnesium, dan ion lainnya.  Batuan mantel yang komposisinya sama dengan beberapa batu permukaan, tetapi atom-atom dalam bahan tekanan tinggi jauh lebih padat.  Pada lapisan bumi yang paling luar adalah kerak, yang terdiri dari bahan ringan. Ketebalan kerak kurang dari 10 kilometer (sekitar 6 km) di bagian lautan dan 70 kilometer (sekitar 45 mil) di bawah bagian benua. Kerak adalah lapisan bumi yang padat tempat manusia hidup, dan tetap menjadi sumber dari hampir semua batuan dan mineral yang kita gunakan dalam kehidupan kita.
Anda mungkin bertanya-tanya bagaimana para ilmuwan bisa menggambarkan bagian dari interior bumi. Cabang ilmu yang mempelajari mengenai bagian dalam bumi disebut Seismologi.

2. Kapan Mulai ada Kehidupan?
Skenario pembentukan bumi memiliki implikasi penting bagi asal-usul kehidupan di bumi.  Selama waktu pemboman besar, Bumi terus-menerus dihujani benda-benda besar, bongkahan batu seukuran negara bagian atau bahkan negara.  Energi yang sangat dahsyat dikeluarkan oleh tabrakan tersebut, dan energi tersebut cukup untuk menguapkan semua lautan yang telah terbentuk. Setiap tabrakan akan mensterilkan planet ini. Bahkan jika kehidupan telah ada selama periode ini, akan dimusnahkan oleh dampak pemboman besar tersebut. Jadi belum bisa ada kehidupan sampai akhir pemboman besar yang terjadi antara 4,2 sampai 3,8 miliar tahun silam.

a. Teori awal mengenai kehidupan

Materialisme
Beberapa teori paling awal mengenai kehidupan bersifat materialis, menyatakan bahwa semua yang ada adalah materi, dan bahwa semua kehidupan pada dasarnya adalah bentuk atau pengaturan yang kompleks dari materi. Empedokles (430 SM) berpendapat bahwa setiap hal di alam semesta terdiri dari kombinasi empat "elemen" abadi atau "akar dari semua": bumi, air, udara, dan api. Semua perubahan dijelaskan oleh pengaturan dan penataan ulang dari empat elemen tersebut. Berbagai bentuk kehidupan disebabkan oleh campuran yang tepat dari unsur-unsur. Misalnya, pertumbuhan tanaman disebabkan oleh gerakan ke bawah secara alami unsur bumi dan gerakan ke atas secara alami dari api.
Demokritos (460 SM), murid Leukippos, berpikir bahwa karakteristik penting dari kehidupan adalah memiliki jiwa (psyche). Sama seperti dengan penulis kuno lainnya, ia juga menggunakan istilah tersebut untuk mengartikan prinsip makhluk hidup yang menyebabkan mereka berfungsi sebagai makhluk hidup. Dia berpikir bahwa jiwa terdiri dari atom api, karena hubungan nyata antara hidup dan panas, dan karena api bergerak. Dia juga menyatakan bahwa manusia pada awalnya hidup seperti binatang, secara bertahap mengembangkan masyarakat untuk membantu sesama, memulai bahasa, dan mengembangkan kerajinan dan pertanian. Dalam revolusi ilmiah abad ke-17, ide-ide mekanistik dihidupkan kembali oleh filsuf seperti René Descartes.

Hylemorfisme
Hylemorfisme adalah teori yang berasal dari Aristoteles (322 SM) yang menyatakan bahwa segala sesuatu adalah kombinasi dari materi dan bentuk. Aristoteles adalah salah satu penulis kuno pertama yang melakukan pendekatan pada subjek hidup dengan cara ilmiah. Biologi adalah salah satu minat utamanya, dan terdapat bahan biologi yang ekstensif dalam tulisan-tulisannya. Menurut dia, segala sesuatu di alam semesta material memiliki unsur materi dan bentuk. Bentuk dari suatu makhluk hidup adalah jiwanya (dalam bahasa Yunani, psyche , Latin anima). Menurut Aristoteles, terdapat tiga macam jiwa, yaitu:
Setiap jiwa yang lebih tinggi memiliki semua atribut dari jiwa yang lebih rendah. Aristoteles percaya bahwa walau materi bisa ada tanpa forma, forma tidak bisa ada tanpa materi, sehingga jiwa tidak bisa ada tanpa tubuh.
Penjelasan yang selaras dengan hylemorfisme adalah penjelasan teleologis mengenai kehidupan. Sebuah penjelasan teleologis menjelaskan mengenai fenomena dalam maksud atau arah tujuan dari fenomena tersebut. Maka, warna putih beruang kutub dijelaskan dengan tujuan kamuflase. Arah sebab-akibat semacam ini bersifat berlawanan dengan ilmu pengetahuan materialistik, yang menjelaskan akibat dari penyebab sebelumnya. Ahli biologi modern sekarang menolak pandangan fungsional ini dari segi materi dan sebab-akibat: ciri biologis harus dijelaskan bukan dengan melihat ke depan untuk hasil yang optimal di masa depan, tetapi dengan melihat mundur ke masa lalu sejarah evolusi suatu spesies, yang mengarah kepada seleksi alam dari objek yang dipertanyakan.

Vitalisme
Vitalisme adalah keyakinan bahwa prinsip-kehidupan pada dasarnya tidak material. Gagasan ini berasal dari Georg Ernst Stahl (abad ke-17), dan bertahan hingga pertengahan abad ke-19.. Vitalisme menjadi daya tarik bagi filsuf seperti Henri Bergson, Friedrich Nietzsche, Wilhelm Dilthey, ahli anatomi seperti Marie François Xavier Bichat, dan ahli kimia seperti Justus Liebig.
Vitalisme menyokong ide pemisahan fundamental antara bahan organik dan anorganik, dan keyakinan bahwa materi organik hanya dapat berasal dari makhluk hidup. Hal ini dibantah pada tahun 1828 ketika Friedrich Wöhler menyiapkan urea dari bahan anorganik.[40] Sintesis Wöhler tersebut dianggap sebagai titik awal kimia organik modern. Hal tersebut merupakan peristiwa bersejarah, karena untuk pertama kalinya suatu senyawa organik yang dihasilkan dari reaktan anorganik.
Kemudian, Hermann von Helmholtz, didahului oleh Julius Robert von Mayer, menunjukkan bahwa tidak ada energi yang hilang dalam gerakan otot, yang menunjukkan bahwa tidak ada "kekuatan vital" yang diperlukan untuk menggerakkannya. Pengamatan empiris ini menyebabkan diabaikannya teori vitalistik dalam sains, meskipun keyakinan ini tetap hidup dalam teori-teori non-ilmiah seperti homeopati, yang menafsirkan bahwa berbagai penyakit disebabkan oleh gangguan pada kekuatan vital atau kekuatan hidup.

b. Asal-usul kehidupan
Bukti menunjukkan bahwa kehidupan di bumi telah ada sekitar 3,7 miliar tahun. Semua bentuk kehidupan yang dikenal punya mekanisme molekuler dasar, dan berdasarkan pengamatan ini, teori-teori tentang asal-usul kehidupan berupaya menemukan mekanisme yang menjelaskan pembentukan satu sel organisme primordial dari mana semua kehidupan berasal. Ada berbagai hipotesis yang berbeda tentang jalan yang dilalui dari molekul organik sederhana melalui kehidupan pra-selular menuju protosel dan metabolisme. Banyak model jatuh ke dalam kategori "gen pertama" atau kategori "metabolisme-pertama", tetapi tren terbaru adalah munculnya model hibrida yang menggabungkan kedua kategori.
Tak ada konsensus ilmiah mengenai bagaimana kehidupan bermula dan semua teori yang diusulkan sangatlah spekulatif. Bagaimanapun juga, kebanyakan model ilmiah yang diterima dibangun dengan satu atau lain cara di atas hipotesis-hipotesis sebagai berikut:
Kehidupan seperti yang kita kenal sekarang ini menyintesis protein, yang merupakan polimer dari asam amino menggunakan instruksi yang dikodekan oleh gen-gen seluler—yang merupakan polimer dari asam deoksiribonukleat (DNA). Sintesis protein juga memerlukan perantara polimer asam ribonukleat (RNA). Salah satu kemungkinan adalah bahwa gen muncul pertama  dan kemudian protein. Kemungkinan lain adalah bahwa protein muncul lebih dulu dan lalu gen. Namun, karena gen diperlukan untuk membuat protein, dan protein juga diperlukan untuk membuat gen, mempertimbangkan masalah yang mana yang muncul lebih dulu seperti mempermasalahkan ayam atau telur. Kebanyakan ilmuwan telah mengadopsi hipotesis bahwa karena DNA dan protein berfungsi bersama-sama dengan intim, tampak tidak mungkin bahwa mereka muncul secara independen. Oleh karena itu, banyak ilmuwan mempertimbangkan kemungkinan, yang tampaknya pertama kali diusulkan oleh Francis Crick, bahwa kehidupan pertama berbasis pada perantara DNA-protein: RNA. Bahkan, RNA memiliki sifat penyimpanan informasi dan replikasi dan sifat katalitik dari beberapa protein yang mirip DNA. Crick dan ilmuwan lainnya mendukung hipotesis RNA-pertama bahkan sebelum sifat katalitik RNA telah ditunjukkan oleh Thomas Cech.
Sebuah masalah yang penting dalam hipotesis RNA-pertama adalah bahwa eksperimenyang dirancang untuk menyintesis RNA dari prekursor sederhana belum seberhasil seperti percobaan Miller-Urey yang menyintesis molekul organik lainnya dari prekursor anorganik. Salah satu alasan dari kegagalan membuat RNA di laboratorium adalah bahwa prekursor RNA sangat stabil dan tidak bereaksi satu sama lain dalam keadaan ambien. Namun, sintesis molekul RNA tertentu yang berhasil dalam keadaan yang diduga sama seperti saat sebelum kehidupan muncul di Bumi telah dicapai dengan menambahkan prekursor alternatif dalam urutan tertentu dengan prekursor fosfat dihadirkan selama reaksi. Penelitian ini membuat hipotesis RNA-pertama lebih masuk akal bagi banyak ilmuwan.
Percobaan terbaru telah menunjukkan evolusi Darwin sejati dari enzim RNA unik (ribozim) terdiri dari dua komponen katalitik terpisah yang mereplikasi satu sama lain secara in vitro.  Dalam menjelaskan hal ini dari laboratoriumnya, Gerald Joyce menyatakan: "Ini adalah contoh pertama, di luar biologi, dari adaptasi evolusioner dalam sistem genetika molekuler."  Percobaan tersebut membuat kemungkinan adanya dunia RNA primordial menjadi lebih menarik bagi banyak ilmuwan.
c. Kehidupan luar Bumi

Daerah sekitar bintang deret utama yang dapat mendukung kehidupan seperti di Bumi di sebuah planet yang mirip Bumi dikenal dengan sebutan zona layak huni. Jari-jari dalam dan luar zona ini bervariasi dengan cahaya dari bintang, seperti halnya interval waktu selama zona akan bertahan. Bintang yang lebih besar dari Matahari memiliki zona layak huni yang lebih besar, tetapi akan tetap berada di deret utama untuk interval waktu yang lebih singkat selama kehidupan dapat berevolusi. Bintang katai merah kecil memiliki masalah yang berlawanan, diperparah dengan tingkat aktivitas magnetik yang lebih tinggi dan efek penguncian pasang surut dari orbit dekat. Oleh karena itu, bintang-bintang di kisaran massa menengah seperti Matahari mungkin memiliki kondisi yang optimal untuk kehidupan seperti di bumi untuk berkembang. Lokasi bintang dalam galaksi juga dapat berdampak pada kemungkinan membentuk kehidupan.
Panspermia adalah hipotesis yang menyatakan bahwa kehidupan berasal tempat lain di alam semesta dan kemudian dipindahkan ke Bumi dalam bentuk spora yang mungkin ditransfer melalui meteorit, komet atau debu kosmik. Namun, hipotesis ini tidak membantu menjelaskan

3. Pembentukan Bulan
Asal usul Bulan yang merupakan satu-satunya benda yang besar di orbit sekitar Bumi, menimbulkan salah satu teka-teki tertua dalam ilmu planet.  Bulan adalah salah satu benda terbesar di tata surya yang lebih besar daripada Merkurius dan Pluto, dan hampir sama besar dengan Mars. Kepadatan Bulan dan komposisi kimia, sangat berbeda dari Bumi secara keseluruhan, meskipun sangat mirip dengan mantel bumi. (Secara kasar, bumi secara keseluruhan memiliki kepadatan sekitar lima kali lipat dari air, sedangkan bulan ini hanya tiga kali lipat dari air).  Bagaimana bisa benda besar muncul di daerah yang sama di wilayah bumi, padahal komposisinya sangat berbeda dengan bumi?

Model komputer memberikan solusi untuk teka-teki ini. Dalam model ini, Bumi mengalami diferensiasi seperti dijelaskan di atas, sehingga materi yang berat tenggelam ke inti dan materi yang ringan melayang ke dalam mantel. Pada titik ini, salah satu benda sebesar mars yang bergerak di sekitar tata surya bertabrakan dengan bumi, menghamburkan sejumlah besar materi ke angkasa.  Beberapa dari materi ini masuk ke orbit sekitar Bumi dan, dalam proses seperti itu membentuk Bulan. Rendahnya kepadatan Bulan konsekuensi dari proses diferensiasi bumi. 

4. Evolusi Atmosfer Planet
Para ilmuwan sekarang menunjukkan bahwa awalnya itu tidak ada atmosfer sama sekali, dan bahwa setelah bumi terbentuk, komposisi kimianya bertahap berkembang ke bentuk yang sekarang. Pertanyaan tentang bagaimana atmosfer bumi muncul dan berubah adalah sangat penting, karena hal ini tidak terlepas dari pemahaman tentang asal-usul dan evolusi kehidupan di bumi.  Pada awalnya Bumi telah mengumpulkan beberapa gas dengan gaya tarik gravitasi. Selama awal pembentukan Matahari, sejumlah besar materi dan radiasi dipancarkan. Akan terjadi ledakan setiap atmosfer bumi terkumpul. Dengan demikian, atmosfer awal Bumi adalah bola batuan panas (atau bahkan cair).

Salah satu perkiraan adalah bahwa hasil utama outgassing di awal pembentukan atmosfer terdiri dari nitrogen (N2), karbon dioksida (CO2), hidrogen (H2), dan air (H2O). Atmosfer bumi sesaat setelah terbentuk panas, lama-kelamaan suhu atmosfer turun, sehingga air mengembun, dan hujan lebat mulai mengisi cekungan laut.  Setelah planet mengalami outgassing, ada beberapa cara atmosfer planet untuk mengalami perubahan. Yang paling sederhana adalah lepas dari pengaruh gravitasi. Molekul-molekul yang dipanaskan oleh Matahari bisa bergerak cukup cepat sehingga fraksi yang cukup dari mereka benar-benar bisa lepas dari tarikan gravitasi dari planet mereka.  Bulan, Mercurius, dan Mars adalah contoh dari planet yang awalnya memiliki atmosfer padat, tetapi kehilangan banyak gas-gas karena lepas dari pengaruh gravitasinya. Sebagian besar unsur-unsur ringan seperti hidrogen dan helium yang mungkin hilang dengan cara yang sama seperti Bumi, tetapi gas yang lebih berat seperti karbon dioksida dan uap air tetap karena mereka terlalu berat untuk lepas dari pengaruh gravitasi bumi.
Penyebab kedua dari perubahan atmosfer yang hanya terjadi di Bumi (karena di planet lain tidak ada kehidupan) adalah pengaruh dari makhluk hidup. Saat bumi berumur 2 miliar tahun, organisme fotosintesis telah berevolusi untuk menggunakan energi matahari untuk melakukan reaksi kimia yang penting bagi kehidupan. Dalam fotosintesis, karbon dioksida dan air diambil ke dalam struktur makhluk hidup, dan oksigen dilepaskan sebagai produk limbah. Seperti mahluk hidup yang berkembang di planet ini, jumlah oksigen bebas juga meningkat, sampai hari ini terdiri dari sekitar 20% dari atmosfer.
Kita cenderung berpikir oksigen sebagai bahan jinak dan indah, tetapi dari sudut pandang kimia itu benar-benar hal-hal agak menakutkan.  Oksigen bereaksi hebat dengan banyak bahan (memikirkan pembakaran kebakaran atau ledakan hidrogen atau bensin). Bahkan, produksi oksigen oleh makhluk hidup di Bumi awal dapat dianggap sebagai peristiwa pencemaran global pertama. Dengan demikian, pembentukan kehidupan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh atmosfer planet di mana berada. Bahkan, banyak ilmuwan sekarang menunjukkan bahwa kita dapat mengatakan apakah sebuah planet memiliki kehidupan di atasnya hanya dengan melihat atmosfernya.


1. Tata Surya Bagian Dalam
Pesawat antariksa telah mendarat di planet terestrial Merkurius, Venus, dan Mars. Merkurius dan Venus, dua planet terdekat dengan Matahari, terlalu panas untuk  memungkinkan adanya kehidupan. Dari semua tetangga planet bumi, Mars adalah planet paling memungkinkan terjadi kehidupan. Bahkan, selama dua dekade terakhir NASA telah mengirimkan armada penjelajah ke Planet Merah, termasuk peralatan yang telah mendarat dan menjelajahi permukaan Mars. 
Pada tahun 1990-an misi Pathfinder dan Mars Global Surveyor mengumpulkan bukti jelas bahwa pernah ada air cair di permukaan Mars-bahkan mungkin samudra besar. Misi Odyssey Mars (2001-2002) dan Spirit & Opportunity (2004-2005) memberikan bukti baru bahwa sejumlah besar air tetap terkungkung di dalam kerak Mars, sebuah temuan yang diperkuat oleh Phoenix Mars Lander, yang mendarat di wilayah kutub utara planet pada tahun 2008 dan menemukan air es dicampur dengan tanah Mars. Bahkan, pemikiran saat ini adalah bahwa pada awal sejarahnya, sebelum kehilangan atmosfer, Mars tampak seperti Bumi.  Karena hidup tampaknya telah berkembang dengan cepat di Bumi, mungkin juga melakukan hal yang sama di Mars.



Mengapa Mencari Kehidupan di Mars?
Gagasan bahwa ada kehidupan di Mars telah menjadi fiksi ilmiah selama beberapa dekade, penulis menggambarkan kehidupan Mars yang mengancam bumi atau seperti salah satu peradaban kuno kita. Pada bagian awal abad kedua puluh, astronom Amerika Percival Lowell bahkan mengklaim bahwa ia bisa melihat "kanal" di Planet Merah, yang ia anggap sebagai bukti positif dari kehidupan.
 Saat kita telah belajar lebih banyak tentang tetangga kita, kita melihat bahwa ide ini tidaklah benar.  Lowell "kanal," misalnya, ternyata menjadi kombinasi ilusi optik dan angan-angan. Namun demikian, tetap ada harapan bahwa beberapa jenis kehidupan mikroba mungkin ada di Mars, dan setiap pendarat Mars telah membawa peralatan yang dirancang untuk mendeteksi tanda-tanda kehidupan organisme. Sampai saat ini, belum ada sinyal kehidupan terlihat. Pandangan saat ini menyatakan bahwa sebelunya ada kemungkiann kehidupan di Mars, ketika itu di permukaan Mars ada lautan, tapi telah punah miliaran tahun yang lalu. Akibatnya, salah satu tujuan utama dari misi pengembalian sampel adalah membawa kembali batu yang dapat diperiksa sebagai bukti fosil kehidupan masa lalu. Dan ini, tentu saja, menimbulkan pertanyaan mengapa kita harus peduli bahwa kehidupan pernah ada di tetangga kita.  Alasannya sangat sederhana, semua makhluk hidup di planet kita berasal dari satu nenek moyang yang sama dan berbagi susunan kimiawi yang sama. Semua makhluk hidup yang kita tahu adalah hasil dari percobaan tunggal.  Kita hanya tidak tahu apakah hidup bersifat universal di alam semesta atau apakah apa yang kita lihat di sekitar kita adalah hasil dari proses kosmik. Jika kita menemukan bukti bahwa kehidupan telah berevolusi di Mars, dan sekarang sudah punah, itu akan memberi informasi bahwa kita dapat berharap menemukan kehidupan di tempat lain di galaksi.
      2. Tata Surya Bagian Luar

 Selama pertengahan 1990-an, astronom punya dua kesempatan unik untuk mempelajari atmosfer Jupiter. Dari tanggal 16 Juli sampai 22 tahun 1994, serangkaian benda dikenal sebagai Comet Shoemaker-Levy bertabrakan dengan Jupiter. Kuatnya tabrakan ini sama dengan ribuan kali bom hidrogen. Dampak dari tabrakan ini adalah membawa gas yang biasanya terletak ratusan mil dalam planet ke bagian atas atmosfer.  Shoemaker-Levy memberikan astronom kesempatan untuk menguji pemikiran mereka mengenai yang ada di bawah atmosfer Jovian, serta teori-teori tentang bagaimana atmosfer terbentuk.  Dampak tersebut, selain memberikan pertunjukan spektakuler, juga memungkinkan para astronom untuk menyempurnakan gagasan mereka tentang komposisi atmosfer Jovian.
 Pada bulan Desember 1995, pesawat ruang angkasa Galileo tiba di orbit sekitar Jupiter untuk memulai penyelidikan planet ini. Galileo diluncurkan pada tanggal 18 Oktober 1989.  Ketika tiba di Jupiter, satelit meluncurkan penjelajah kecil ke dalam atmosfer Jovian.  Penjelajah tersebut masuk ke atmosfer, mengirimkan kembali informasi. Setelah 57 menit beroperasi, penjelajah hancur, namun selama masa singkatnya itu telah memberikan ilmuwan sebuah informasi baru tentang atmosfer planet Jupiter.  Setelah itu, Galileo menghabiskan beberapa tahun di orbit sekitar Jupiter, mengirimkan kembali harta karun berupa informasi tentang planet dan bulan-bulannya.  Pada tanggal 21 September 2003, pesawat ruang angkasa terjun ke atmosfer Jupiter untuk menjaga terhadap kontaminasi kemungkinan masa depan Europa.  
Kemudian, pada bulan Juni 2004, NASA Cassini menjadi pesawat ruang angkasa pertama yang memasuki orbit sekitar Saturnus, pesawat ini memberikan gambar spektakuler.   Dengan massa lebih dari 5000 kilogram, Cassini adalah penjelajah ruang angkasa yang terbesar dan paling kompleks yang pernah diluncurkan.  Tugas utamanya mengeksplorasi bulan Saturnus, yaitu Titan.  Ukuran Titan menyaingi ukuran planet terestrial.


Para astronom telah menemukan puluhan bulan mengelilingi Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.  Masing-masing bulan dapat dianggap sebagai laboratorium kecil yang  mengacu pada planet terestrial.  Berikut akan dibahas tiga saja dari sekian banyak bulan planet luar.
Io
Bulan Io, yang mengorbit Jupiter, adalah satu-satunya bulan di tata surya yang dikenal memiliki gunung berapi aktif.
  Europa









Titan  
Para ilmuwan percaya bahwa bulan Saturnus, yaitu Titan mempunyai ukuran yang sama dengan planet Merkurius, juga dapat berfungsi sebagai laboratorium untuk reaksi kimia yang terjadi miliaran tahun yang lalu di Bumi. Salah satu tugas utama Cassini ketika tiba di Saturnus pada tahun 2004 adalah untuk menyelidiki atmosfer Titan.  Penjelajah, bernama Huygens, turun dengan parasut dan mengirimkan data ke Cassini selama lebih dari tiga jam sebelum akhirnya rusak karena dingin. Hasilnya, saat ini kita mengetahui bahwa Titan terdiri dari es batu, air, metana cair (CH4, atau gas alam), dan terbentuk danau besar akibat dari adanya hujan.  Para ilmuwan berpikir bahwa bahwa reaksi kimia yang membentuk senyawa organik sedang berlangsung di Titan, diperlambat oleh dingin. Reaksi ini terjadi lebih cepat di lautan, dan Titan dapat dikatan sebagai museum kimia awal Bumi.
Cincin
Selain berbagai bulan, masing-masing empat planet Jovian memiliki sistem cincin yang terbentuk dari partikel-partikel kecil yang tak terhitung jumlahnya dari es dan batu. Saturnus memiliki fitur sistem cincin yang paling spektakuler, terdiri atas susunan kumpulan objek halus dan terpisah oleh objek yang lebih besar yang disebut sebagai satelit gembala.

b. Pluto dan Sabuk Kuiper  
Pluto secara tradisional dianggap sebagai planet terluar, tetapi perilakunya selalu menimbulkan masalah bagi para astronom.  Pertama, Pluto berukuran kecil yaitu sekitar 0,3% dari massa Bumi.  Kedua, Orbit pluto miring lepas dari bidang orbit planet lain, dan kadang berada di dalam orbit Neptunus.  Yang terakhir,  pluto mempunyai bulan yang disebut Charon, yang mempunyai ukuran hampir sama besar dengan Pluto itu sendiri. 


Dulu pluto dianggap sebagai planet terakhir di tata surya, pada kenyataannya pluto merupakan obyek khas pertama di Sabuk Kuiper. Pada tahun 2008 International Astronomical Union menganugrahkan status baru yaitu Plutoid untuk objek yang mengorbit lebih jauh dari Pluto. Sejumlah obyek telah ditemukan dan diberi nama.  Pada tahun 2006, NASA meluncurkan penjelajah ruang angkasa New Horizons. Setelah melewati Jupiter pada tahun 2007, saat ini sedang dalam perjalanan menuju Pluto dan diperkirakan sampai pada tahun 2015. Ini akan menjadi obyek buatan manusia pertama yang mengunjungi tubuh misterius pluto. Setelah terbang ke Pluto, New Horizons akan pergi untuk mengeksplorasi Sabuk Kuiper.

c. Satelit Voyager


Satelit Voyager 1 dan Voyager 2 NASA merupakan dua satelit kembar yang diluncurkan pada akhir tahun 1977 untuk mengeksplorasi planet di luar tata surya kita. Dua wahana satelit tersebut saat ini sedang dalam perjalanan menuju ke luar dari tata surya dan hampir mencapai pintu ruang antarbintang. Voyager 2 diluncurkan pada 20 Agustus 1977 dan Voyager 1 diluncurkan pada 5 September 1977.
Saat ini kedua wahana tersebut masih dalam keadaan sehat dan beroperasi dengan baik dengan mengirimkan data ke JPL (Jet Propulsion Laboratory) NASA di Pasadena. Untuk mengoperasikan kedua satelit tersebut, JPL mengirimkan sinyal berkecepatan cahaya dan membutuhkan waktu sekitar 13 jam untuk sampai ke Voyager 2 dan 16 jam untuk mencapai Voyager 1.

Pada Agustus 2011 lalu, Voyager 2 berhasil memecahkan rekor misi NASA terpanjang sebelumnya selama 12.758 hari yang diraih oleh wahana Pioneer 6 Probe yang diluncurkan pada 16 Desember 1965 dan memberikan sinyal terakhir pada 8 Desember 2000. Saat ini Voyager 1 berjarak 11 miliar mil (18,4 miliar km) dari Bumi dan bergerak ke utara sedangkan Voyager 2 berjarak 9 miliar mil (15 miliar km) dan bergerak ke selatan. Dalam 5 tahun terakhir Voyager 1 dan 2 mengirimkan data dan informasi mengenai lapisan luar heliosphere. Pada 5 tahun pertama, Satelit Voyager telah meneliti dari dekat planet Jupiter, Saturnus dan cincinnya, bulan-bulan yang dimilikinya, planet Uranus, Neptunus dan lain sebagainya.

Kedua satelit baik Voyager 1 maupun 2, membawa piringan emas fonograf yang berisi berbagai macam konten seperti foto dan rekaman suara alam seperti suara petir, hewan, ucapan salam dalam 55 bahasa dan budaya dan sebagainya.  Pihak NASA mengatakan bahwa kedua satelit Voyager masih memiliki cukup tenaga untuk terus berkomunikasi dengan Bumi hingga tahun 2020 atau bahkan hingga 2025. (SP, Adi Saputro/ www.astronomi.us)

3. Asteroid, komet, dan meteor
Ketika sistem tata surya terbentuk, tidak semua materi dalam piringan bergabung menjadi planet atau bulan. Bahkan setelah ratusan juta tahun akumulasi dan pemboman, banyak puing-puing masih mengambang sampai saat ini. Objek-objek ini digolongkan menjadi dua bentuk, yaitu asteroid dan komet.
a.       Asteroid
Asteroid adalah benda berbatu kecil di orbit sekitar Matahari.  Sebagian besar asteroid yang ditemukan di daerah melingkar yang luas, yang disebut sabuk asteroid  berada antara planet Mars dan Jupiter.  Asteroid dianggap sebagai kumpulan planetisimal yang tidak pernah berhasil menjadi planet yang stabil.  Banyak asteroid memiliki orbit yang melintasi orbit Bumi, dan menghasilkan dampak yang sangat besar di planet kita.
b.      Komet

Terkadang komet akan jatuh secara periodik menorbit mengelilingi Matahari. Yang paling terkenal dari komet periodik adalah komet Halley, yang kembali ke bumi sekitar setiap 76 tahun. Halley kembali pada tahun 1910 itu cukup spektakuler, karena  komet melewati dekat Bumi saat itu pada suhu tertinggi dan karena itu memiliki ekornya terbesar dan paling spektakuler. Kembalinya pada tahun 1986 jauh lebih spektakuler karena komet berada di sisi yang jauh dari Matahari. Berikutnya diprediksi akan kembali tahun 2061.
Para astronom telah benar-benar mendeteksi banyak benda di Sabuk Kuiper bagian dalam dengan Hubble Space Telescope.  Para ilmuwan dapat mempelajari komet dengan cara yang biasa, mengamati mereka dengan teleskop dan instrumen lainnya. Mereka juga bisa, bagaimanapun, menggunakan penjelajah ruang angkasa untuk mendapatkan informasi lebih rinci.  Pada tahun 1999, misalnya, NASA meluncurkan penjelajah Stardust, yang mengumpulkan materi dari ekor komet Wild 2 (diucapkan "Vild," setelah penemunya).   Salah satu proyek yang paling ambisius adalah penjelajah Badan Antariksa Eropa Rosetta, diluncurkan pada tahun 2004.  Penjelajah tersebut terbang melalui asteroit pada tahun 2008, dan akan terus terbang sampai pada akhirnya bertemu dengan komet Churynumov-Gerasimeno pada tahun 2014. Rencananya penjelajah tersebut akan masuk mengorbit di sekitar inti komet dan mengumpulkan data rinci mengenai komet tersebut.

c.       Komet dan Kehidupan di Bumi
Selain memberikan kita bukti mengenai hukum gravitasi universal, komet juga memiliki dampak penting pada evolusi kehidupan di Bumi. Banyak ilmuwan menduga bahwa dampak komet atau asteroid mungkin telah mengubah iklim bumi secara drastis dan menghasilkan kepunahan massal, atau pembunuhan, dalam sejarah bumi. Kebanyakan ilmuwan bumi, misalnya, sekarang percaya bahwa dinosaurus dan bentuk kehidupan lain yang berkembang 65 juta tahun yang lalu telah punah akibat dampak komet besar atau asteroid yang menghantam bumi di sebuah tempat dekat Semenanjung Yucatan, Meksiko.

d.      Meteoroid, Meteor, dan Meteorit
Meteoroid adalah bagian kecil dari puing-puing ruang angkasa kuno yang menorbit di sekitar Matahari. Kadang-kadang salah satu dari benda ini, mungkin ukuran sebutir pasir, akan jatuh ke dalam atmosfer bumi yang kita kenal sebagai meteor. Kebanyakan meteor terbakar habis menjadi partikel abu mikroskopis yang tanpa disadari perlahan-lahan turun menghujani Bumi. Kadang-kadang, jika materialnya cukup besar sehingga hanya terbakar bagian permukaannya saja, maka meteor dapat mencapai permukaan bumi yang disebut sebagai meteorit.  Jatuhnya meteor sangatlah spektakuler, peristiwa rutin yang terjadi di langit malam. Anda dapat melihat garis-garis brilian di langit, hal itu disebabkan oleh tabrakan bumi dengan sekumpulan material-material kecil yang bergarak di sekitar orbit komet.  Beberapa di antaranya mungkin merupakan komet hancur akibat tarikan gravitasi sebuah planet. Tabel 16-2 berisi tentang beberapa hujan meteor paling spektakuler.  Meteorit sangat penting dalam mempelajari sistem tata surya karena, mereka mewakili bahan dari mana sistem ini awalnya dibuat. Meteorit dianalisis oleh para ilmuwan, untuk mendapatkan ide bagaimana dan kapan bumi dibuat, dan untuk mempelajari apa jenis bahannya, manusia akan menemukan ketika mereka meninggalkan Bumi untuk menjelajahi seluruh tata surya.

4. Planet di Luar Tata Surya

Ketika bintang itu bergerak ke arah Anda, frekuensi cahaya yang dipancarkannya akan bergeser ke arah biru, sementara ketika itu bergerak menjauh dari Anda cahaya akan bergeser ke arah merah. Dengan demikian, Anda akan melihat perubahan frekuensi cahaya bintang, seperti yang diilustrasikan pada gambar diatas.  Ini adalah fakta, bagaimana hampir semua planet di luar tata surya sebenarnya telah terdeteksi.
Planet ekstrasurya pertama ditemukan pada tahun 1994 oleh Alexander Wolszczan di Penn State University.  Planet ini mengitari sebuah pulsar, dan perubahan emisi radio pulsar dipantau. Pulsar adalah sisa-sisa supernova, planet ini khusus adalah sesuatu dari sebuah anomali, mungkin terbentuk dari puing-puing setelah bintang induknya meledak. Planet ekstrasurya normal pertama ditemukan pada tahun 1995 oleh tim astronom Swiss. Planet ini mengitari sebuah bintang yang disebut 51 Pegasi, terletak sekitar 42 tahun cahaya dari Bumi. Seiring waktu telah berlalu, planet ekstrasurya yang lebih banyak dan sistem planet telah ditemukan, hingga saat ini kita telah melihat ratusan planet extrasurya, sistem dengan banyak planet.  



Manusia selalu ingin melakukan perjalanan ke planet yang jauh. Dengan perkembangan teknologi yang telah dicapai, perjalanan ruang angkasa jangka panjang menjadi lebih besar kemungkinan. Masalah utama yang mempengaruhi manusia sejak mereka mulai ekspedisi ke ruang angkasa adalah efek fisiologis di lingkungan tanpa gravitasi pada tubuh manusia. Realisasi bahwa kurangnya gravitasi menyebabkan perubahan fisik pada tubuh manusia datang ketika NASA mulai mengirimkan astronot ke orbit untuk periode singkat. Ketika astronot kembali ke tanah, mereka menjadi bingung dan tidak bisa berjalan. Hal ini memicu beberapa studi awal tentang apa yang terjadi pada tubuh manusia dalam ruang hampa. Dengan berkembangnya durasi penerbangan ruang angkasa menjadi lebih lama, para ilmuwan mulai menemukan perubahan lainnya dalam tubuh manusia. Salah satu temuan pertama adalah bahwa tanpa tekanan gravitasi, hati manusia menjadi membesar dan tulang-tulang dalam tubuh mulai memburuk. Otot-otot tubuh juga mengalami atrofi (pengecilan / penyusutan) karena kurangnya penggunaan.
Dengan kemajuan teknologi komputer dan kedirgantaraan, eksplorasi ruang angkasa bukan hal yang mustahil. Kita sudah sangat dekat dengan teknologi untuk membuat kendaraan yang mampu melakukan perjalanan jarak jauh di ruang angkasa. Masalah yang terus-menerus dihadapi adalah efek yang jangka panjang perjalanan ruang angkasa pada tubuh manusia. Para peneliti telah mengidentifikasi dan mempelajari masalah ini sejak tahun 1951.
Tubuh manusia mengalami banyak perubahan di lingkungan tanpa gravitasi.


Daftar Referensi

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgqpXy3xWwLriDaxuyMVwRlr1ieXyATNWZtkaWjnWHorpKfrIHSAMqzLNKhcZp5uYXRLx43v5CZ9loasYLsSRDeZltnsxltUQTY9rIUpR0X7wNR6d5BEucMXFZ9s_sgmuc0HuReOImEjkcx/s1600/ posisi+Voyager+1+dan+2.jpg

http://septiadiah.wordpress.com

http://id.wikipedia.org/wiki/Kehidupan

http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Atmosphere_layers-id.svg&filetimestamp= 20111004102222

Trefil, James. M. Hazen, Robert. 2010. The Sciences An Integrated Approach. Sixth Edition. United States of America. John Wiley & Sons, Inc.